Tepat jam 11.15 siang pertengahan bulan Juni, kereta yang membawa saya dari Berlin tiba di Stasiun Nadrazi Holesovice. Empat setengah jam perjalanan dari Berlin tak terasa melelahkan, apalagi mata cukup terhibur dengan pemandangan perbukitan dan sungai nan indah khas Eropa. 

Hujan menemani seperempat waktu perjalanan saya melintasi kawasan Timur Eropa. Sungguh beruntung, begitu tiba di Praha matahari bersinar dengan cerah seakan menyambut kedatangan saya di ibukota Republik Ceko ini.. Kota Praha sendiri dapat dilalui melalui tiga jalur transportasi. Jalur udara melalui Bandara Letiste Ruzyne, untuk bus melalui Terminal Florenc, dan kereta melalui dua stasiun Holesovice dan Hlavni Nadrazi. 

Holesovice merupakan stasiun kedua terbesar di Praha setelah Hlavni Nadrazi. Stasiun ini juga menjadi tempat kedatangan kereta dari arah barat dan utara, seperti dari Berlin, dan keberangkatan menuju timur ke arah Budapest ataupun Bratislava. Meski letak Holesovice agak ke utara Praha, namun jaraknya ke pusat kota hanya berjarak 10 menit perjalanan dengan menggunakan metro atau kereta bawah tanah. Sekedar informasi, ada tiga jalur transportasi umum di Praha, dengan metro, tram, ataupun bus.

 

Ketika hendak membeli tiket metro di Holesovice, secara kebetulan saya bertemu dengan satu keluarga asal Indonesia yang juga sedang berwisata ke Praha. “Melepas penat saja, apalagi banyak yang mengatakan Praha kota yang bagus,” timpal M. Fauzan Amir, sang kepala keluarga, yang sedang melanjutkan studi S3nya di Jerman.

Dari pemandu keluarga asal Indonesia tersebut, saya mendapat masukan berharga. Ternyata Praha cukup rawan dengan aksi pencopetan dengan teknik profesional yang tak jarang melebihi teknik para pencopet di Jakarta. Trauma dengan aksi pencopet di Jakarta, saya pun segera memindahkan tas dari punggung ke bagian depan badan saya. Wah ternyata pencopet tak hanya di jumpai di Indonesia saja, di Eropa juga ada loh.

Oh ya, karena Ceko masih menggunakan mata uang sendiri, Czech Korone (CZK), alangkah baiknya Anda menukarkan dulu uang Anda sebelum tiba disini. Nilai tukar 1 Euro sendiri setara dengan 22 CZK sampai 24 CZK.  Namun jika tak sempat, jangan khawatir, banyak sekali tempat penukaran uang di Praha karena Praha sendiri sekarang telah menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Eropa selain Paris. 

 

Seperti transportasi di Eropa pada umumnya, sistem transportasi di Praha terbilang mudah dan efisien. Kita bisa membeli tiket untuk jangka waktu 30 menit, 75 menit, satu hari, tiga hari, hingga 5 hari. Harganya sendiri mulai dari 18 CZK, hingga 500 CZK. Anda dapat membeli tiket tersebut di mesin tiket, atau di kios rokok bagi yang tidak mempunyai uang receh. Tiket tersebut berlaku untuk tiga jenis transportasi di Praha. Jangan lupa untuk memvalidasi tiket sebelum mempergunakannya. Masa berlaku tiket dimulai sejak masa validasi.

Perjalanan Anda di Praha dapat Anda mulai dengan mengunjungi National Museum. Bangunan kuno yang berdiri tahun 1818 ini memajang berbagai macam karya seni seperti peristiwa penting jaman pra-sejarah Bohemia, Moravia and Slovakia. Lalu ada juga berbagai macam koleksi medali negara-negara Eropa dari abad 19 dan abad 20, dan berbagai macam koleksi Palaeonthologi, dan koleksi-koleksi lainnya. Bisa dipastikan Anda akan membutuhkan waktu lama guna menikmati keindahan arsitekturnya plus berbagai karya seni didalamnya. National Museum acapkali juga digunakan sebagai tempat pertunjukan musik klasik di Praha.

Selepas National Museum, tak ada salahnya Anda melepas lelah di Wenceslas Square yang letaknya hanya sepelempar batu dari sana. Tempat ini menjadi salah satu tempat favorit di Praha, baik hanya sekedar kumpul, meeting point,  atau surga belanja bagi  shopalcoholic. Apalagi beberapa toko besar banyak yang masih menerima Euro sebagai alat pembayaran.

Ketagihan belanja? Tak usah khawatir, harga barang di Praha termasuk murah untuk ukuran kota di Eropa. Meski Ceko dikenal sebagai salah satu bekas negara komunis dengan sistem kapitalis, namun jika melihat situasi sekarang, hal itu seakan lenyap tak berbekas. Gerai McDonald, Esprit, Puma, dan berbagai macam brand internasional dapat Anda jumpai dengan mudah di  sepanjang Wenceslas Square.

Takut tersesat, jangan khawatir, cukup banyak kok warga Ceko yang mampu berbahasa Inggris, dan mereka akan dengan senang hati menerangkan lokasi dan arah kepada Anda.

Bila sudah sampai sejauh ini, jangan lupa untuk berkunjung ke Old Town Square. Di lapangan ini, tempat yang paling ramai adalah The Astronomical Clock buatan tahun 1410. Masih di tempat yang sama, Gereja Tyn berdiri dengan anggunnya. Udara Praha yang hangat di malam hari makin membuat ramai Old Town Square. Beberapa wisatawan tampak asyik mengabadikan momen tersebut, sementara wisatawan lainnya lebih memilih menyeruput secangkir kopi di beberapa kafe di Old Town Square.

 

 

 

Berhubung bulan Juni sedang diadakan pagelaran Euro 2008, di dua tempat berbeda tak jauh dari Old Town Square dipasang layar lebar yang menampilkan siaran langsung Euro 2008. Sebelum pertandingan berlangsung, pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai macam atraksi dan permainan dengan hadiah yang menarik. Lapangan bakal semakin ramai lagi apabila Tim Nasional Ceko yang berlaga. Kebetulan ketika itu Ceko akan menghadapi partai penentuan melawan Turki.

Praha memang terkenal dengan bangunan tuanya yang sangat indah. Tak terkecuali dengan Kastil Praha, kastil kuno yang berumur lebih dari 1.100 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan kota Praha selama ratusan tahun. Konon inilah kastil terbesar di dunia. Di salah satu sudut kastil, pemandangan kota Praha tampak tertata rapi, terbujur dengan indahnya.

 

Keindahan Prahalah yang membuat Guille Tarabal memilihnya sebagai satu diantara sekian banyak kota Eropa yang bakal dikunjunginya. “Dengan banyak bangunan tua,membuatnya tampak indah sekali,” tutur gadis cantik berusia 24 tahun ini.

Tempat lainnya yang menjadi favorit wisatawan adalah Charles Bridge. Disini pejalan kaki dapat dengan bebas melangkahkan kakinya tanpa perlu khawatir akan gangguan mobil atau motor.

Suara musik di ujung jembatan menarik perhatian KONTAN. Turis tampak memadati sekelompok musisi jalanan yang asyik memainkan beberapa lagu jazz. Tepukan aplus membahana di atas jembatan yang membelah Sungai Vltava begitu musik berakhir. Pengunjung pun berkenan menaruh uang di tempat yang telah disediakan. Tak jauh dari situ, beberapa pelukis jalanan memajangkan karya mereka. Seorang pengunjung pun tampak tertarik untuk dilukis wajahnya. Ingin menikmati pemandangan seluruh kota Praha, sambangilah Petrin Tower di kawasan Mala Strana. Perjalanan menuju Petrin Tower dapat dilalui dengan dua cara, dengan berjalan kaki ataupun naik kereta. Begitu sampai di atas Petrin Tower, berani bertaruh kaki Anda seakan enggan untuk beranjak meninggalkan tempat ini.

Banyak tempat lainnya yang bisa Anda kunjungi di Praha misalnya saja National Theatre, Henry’s Tower, dan beberapa tempat lainnya. Beberapa tempat memang lebih baik menggunakan transportasi umum karena letaknya yang di perbukitan dan cukup jauh, namun masih banyak juga tempat lainnya yang bisa Anda kunjungi dengan berjalan kaki. Tak usah khawatir, Praha sendiri tak begitu luas. Sebelum Anda capai, Anda sudah akan lupa saking indahnya pemandangan kota Praha. Tapi janganlah kaget, di beberapa stasiun mungkin Anda masih menemukan bau pesing dan masih ada beberapa sampah berserakan di jalan.                

 

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Terlepas dari itu, layak jika kita menyematkan Praha sebagai salah satu kota terindah di Eropa

 

By : Agung Ardyatmo (It was taken from article published in KONTAN Weekly 2008)

 

Lagi-lagi kebab. Wah tak tahu saya, sudah berapa kebab yang saya makan selama saya disini, dan sudah berapa pula warung kebab yang saya datangi. Kebab memang makanan khas Timur Tengah. Kebetulan karena Berlin merupakan kota dengan jumlah orang Turki terbanyak kedua di dunia, jadilah kebab bertebaran di hampir seluruh pelosok Berlin.

Selain harganya yang cukup terjangkau bagi kantong Melayu seperti saya, yang terutama adalah kebab menggunakan daging sapi atau daging domba, yang notabene di Jerman banyak sekali bertebaran daging babi yang diharamkan bagi orang Muslim.

Ada yang lucu ketika saya membeli kebab di dekat tempat saya belajar. Berhubung yang menjual adalah orang tua, jadinya harga yang dikenakan tergantung mood orang tua tersebut, kadang satu kebab bisa terkena 2,20 Euro, kadang bisa 2,60 Euro, yah tinggallah kita yang menggerutu, hahahaahaha…

Meski begitu menurut saya, kebab terbaik yang pernah saya rasakan adalah kebab di tempat itu, dan satu lagi kebab di Check Point Charlie, rasanya cukup pas, asinnya juga. Tob markotob daaaaaah…Yah, inilah seluk beluk kebab di negaranya Angela Markel.

Berlin. Germany is on track to achieve the target of producing 25 per cent of its total energy requirement through wind power by erecting more energy parks in days to come.

 

Ulf Winkler, Director of Umweltplan, a wind park developing company told reporters here on Wednesday (04/30) that Germany is one of the world’s largest wind-power producing country, as currently it has 18,685 wind energy plants that have the capacity of 20,622MW electricity.

 

Umweltplan was currently operating a plant of five wind-mills at Ladeburg, Berneu, which has the installed capacity of 5MW.

 

According to him, the first time investment cost for one wind plant could be around one million euro and usually its life span last for 20 years.

 

He said besides having benefit for the overall ecology, the execution of wind  energy plant is comparatively easier than other means of producing powers. For example, he explained, the wind power plants in Ladeburg Wind Park, Berneu took only a few weeks for the construction. He, however, informed that fulfilment of procedures takes usually two to three years in Germany.

 

Referring to the production of Ladeburg wind park, he said it produces 5 million kwh per year. The park has five wind-plants having 78 meter height and 20 meter length of blades. Each of the plants has a capacity from 0,6 MW to 1,5 MW which cover for almost 300 households.  With the cost production for 7 cent/kwh, the operator of the plants receive 8 cent/kwh and the consumer of the household have to pay 20 cent/kwh. Enercon, the German company, produces the power plants, and Umweltplan does the maintenance. “It will cost you 5.000 Euro per year for the maintenance,” said Winkler.  

 

He further said wind plant can best be erected in places of high altitude like hills, or offshore-sea. That is why cost of the project goes up, in case  of hilly areas or offshore.

 

It is pertinent to mention here that Indonesia, being a fast growing economy, has many advantages to build wind energy parks especially in the Eastern Area. The country, having a population of 220 million, has many potential areas in the eastern such as NTB, Southern Sulawesi, and Papua. A major portion of this densely populated country does not have electricity.

 

The biggest problem, which can create hurdles in introducing this new technology in Indonesia is high cost of its installation. The government has to invest around one million euro equal to Rp 14,5 billion for erecting a wind plant.

 

 

By : Agung Ardyatmo (Posted : May 1st. 2008)