Pesawat Lufthansa yang membawa saya dari Frankfurt mendarat mulus di Bandara Tegel. Udara khas musim semi menyambut kedatangan saya yang kedua di Berlin. Sedikit perbedaan dengan tahun lalu, udara kali ini cukup hangat, entah karena global warning, atau alasan lain, yang penting saya menikmatinya.

Dipesawat menuju Berlin, saya bertemu dengan dua rekan lama dari Zimbabwe, Paul dan Kumbirai. Tak banyak kata-kata yang terucap, karena kita langsung menemukan tempat duduk kita masing-masing. Saya pun belum menemukan gambaran apa yang akan saya alami seminggu kedepan. Namun pastinya, saya akan menikmati kembali reuni dengan teman-teman.

Wrote a status: just landed in Tegel…

Seorang rekan lama dari Jerman menyambut status saya, Agung, r u in Berlin now?

Hmmmm… Mulai terbayang di pikiran saya, rencana-rencana yang akan saya lakukan selama seminggu kedepan….

 

Tepat jam 11.15 siang pertengahan bulan Juni, kereta yang membawa saya dari Berlin tiba di Stasiun Nadrazi Holesovice. Empat setengah jam perjalanan dari Berlin tak terasa melelahkan, apalagi mata cukup terhibur dengan pemandangan perbukitan dan sungai nan indah khas Eropa. 

Read the rest of this entry »

Lagi-lagi kebab. Wah tak tahu saya, sudah berapa kebab yang saya makan selama saya disini, dan sudah berapa pula warung kebab yang saya datangi. Kebab memang makanan khas Timur Tengah. Kebetulan karena Berlin merupakan kota dengan jumlah orang Turki terbanyak kedua di dunia, jadilah kebab bertebaran di hampir seluruh pelosok Berlin.

Selain harganya yang cukup terjangkau bagi kantong Melayu seperti saya, yang terutama adalah kebab menggunakan daging sapi atau daging domba, yang notabene di Jerman banyak sekali bertebaran daging babi yang diharamkan bagi orang Muslim.

Ada yang lucu ketika saya membeli kebab di dekat tempat saya belajar. Berhubung yang menjual adalah orang tua, jadinya harga yang dikenakan tergantung mood orang tua tersebut, kadang satu kebab bisa terkena 2,20 Euro, kadang bisa 2,60 Euro, yah tinggallah kita yang menggerutu, hahahaahaha…

Meski begitu menurut saya, kebab terbaik yang pernah saya rasakan adalah kebab di tempat itu, dan satu lagi kebab di Check Point Charlie, rasanya cukup pas, asinnya juga. Tob markotob daaaaaah…Yah, inilah seluk beluk kebab di negaranya Angela Markel.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.